Bocah Pemimpi Pindahan

Juli 16, 2009

Bocah pindahan ke blog baru

rencananya sih kombinasi pake Bahasa Indonesia sama Inggris. Berkunjung yah…

http://wordsparty.blogspot.com

Gua mau ikutan sayembara penulisan Anugerah Herawati Diah nih. Bukan,bukan. Tidak ada anu seorang pun yang perlu dibuat gerah dalam sayembara ini. Kesempatan dibuka untuk tulisan berkaitan dengan lingkungan dan budaya. Kriterianya yaitu inspiratif, menawarkan solusi, dan pastinya menggunakan struktur dan tata bahasa Indonesia yang baik. Oke kan? Ini dia sayembara yang mantap. Ikutan nyok!!! Wokeeeh?

Saya sedang terpukul nih. Terguncang. Shock. Dua UAS yang telah berlalu (Pengantar Elektronika-Tenaga Listrik dan Perancangan Elemen Mesin) sungguh” menyayat hati. Padahal pas ujian PETL tanggal 19 entuh, gua udah bersemedi dulu. Nge-voor 30 menit. Kan seperti quote Henry Ford (seinget gua sih) “Kalau saya diberi waktu enam jam untuk menggergaji pohon, saya akan menggunakan lima jam untuk mengasah gergaji saya”. Dan gua mengikuti saran Bapak pengusaha yang dahsyat onoh. Tapi mengapa gua GAGAL!!?? Apa yang salah Babeh Henry??? Apakah seharusnya gua masuk setelah 5/6 * 100 menit = 83,33 menit??? Aye kepengen banget nurutin nasehatnya babeh, tapi kalo begitu caranye sih aye kagak boleh masuk beh!!! Huhuhuhu. Babeeeeeh!!!

Ya, ujian elektro itu gua lalui dengan merana tapi tidak gundah gulana. Baik soal teori ataupun hitungan gua hajar dengan nestapa. Namun tidak cukup dengan ketidak-bisaan ituh, masa ujian juga diisi komunikasi yang membuat diri ini bermuram durja tapi juga cerah ceria (karena masa depan yang menjanjikan (?))

Gua : (nengok diagonal ke kanan belakang) Mer, tip-ex

hening..tidak ada jawaban

Gua : tip-exxx

Mercy: (membalik kertas lalu berbisik” asik) 110

Gua : (cengok)

lalu Saudara Hilman membantu dengan bergumam ke arah Mercy “tip-ex”

Lantas diberikanlah tip-ex itu kepada saya.

Tidak lama Bapak Pengawas Ujian yang Muda nan Tampan lagi Rupawan serta Menggairahkan Gadis Kesepian menghampiri. Dia tersenyum. Aku balas tersenyum. Lalu terucap kata-kata mesra “Lain kali jangan pinjam-pinjam lagi ya” Kubalas tatapnya. Sambil tersipu. Malu. Mau. Tapi Ragu.(jadi kayak cerpen di tabloid remaja..) “Iya, Pak” lalu kusunggingkan senyumku.

Yang membuat gua merenung adalah ‘Apakah pemasang togel adalah jalan hidupku?’ ‘Dan apakah saudari Mercyana itu jalan hidupnya adalah dukun togel?’ Tuhan memberi petunjuk melalui peristiwa siang itu. Mercy, yang mau saya pinjam tip-exnya, malah menawarkan jasa memberi angka. Buat Anda bandar, agen dan pemasang togel yang belum terjaring POLRI, berapakah angka yang tembus pada tanggal 19 Juni 2008? Saya tunggu jawabannya yaa. Jawaban Anda sangat menentukan hidup dua insan manusia. Deal?

Lanjut ke ujian PEM tanggal 20. Ujiannya open book lhooo!! Cihui kan? Memang terdengar seperti itu. Tapi hasilnya? Sepanjang ujian gua cuma cengar-cengir dan mesem-mesem. Mbak Pengawasnya aja terlihat seperti kebingungan melihat gua. Soalnya 4, waktu 100 menit. Waktu tersebut lebih banyak gua isi dengan memantau dan mengamati anak” lain yang terlihat sangat asyik menghadapi lembar jawaban, dibanding kerja. Ini juga yang membuat gua pasrah dan berserah. Sampai akhirnya 10 menit terakhir gua tulislah jawaban yang menjadi kunci dari segalanya. Jawaban yang dapat menyelamatkan umat manusia. Jawaban ke-5!! dari 4 soal!! ya, jawaban kelima adalah surat cinta untuk Bapak dosen Bernardus Bandriyana. Isinya? Rahasia lah..namanya juga surat cinta. Gini-gini kan kita juga butuh privasi! Hehehe

Anehnya, seusai keluar ruangan ujian gua malah jadi bersemangat dan senyum-senyum kegirangan. Sedikit lompat-lompat kayak orang kesetanan (emang iya ya orang kalo kesetanan lompat”? kevampiran atau kepocongan kali ya….) . Apakah alam bawah sadar ini mendorong gua untuk berpura-pura bisa? Supaya gua bisa menjalin persaudaraan dengan Lius, yang dirinya bersikap seakan-akan bisa? Hanya Tuhan yang tahu. Setelah berhuru-hara, gua bareng Gilang dan David ‘bandar’ pun menuju smoking room menghampiri anak PAD seperti Lius, Kris, dan senior anak 2003 yang ngulang. Lalu langsung pindah ke basement. Di sanalah pernyataan persaudaraan antara gua, dan Lius,… dilangsungkan. Hahai

Sorenya jam stgh 5 anak” pada nge-DOT a di empo dekas (depan kampus syahdan…what a name!!! haha). Gua tengak-tengok bentar. Tapi ga tertarik. Laper..terus makan dulu deh di Rumah Makan Padang dengan menu yang biasa gua makan saat krisis (I’ll write about this later). Mau nyamperin Ian di kosan, sebelumnya sms dulu. Tapi ga dibales”. Batal dah ngadu WE dan kongkow” serta belajar…haha, belajarnya ditulis terakhir. Baru hari ini gua tau kalo ternyata Ianlage ada di kos, tapi ga ada pulsa. Kelar makan, gua makhluk yang malas pulang dan seperti tak berrumah ini pun menuju kampus Syahdan. Denger lagu sambil baca” pengetahuan bahan. Dahsyat kan? Entah kesambet apa gua waktu itu…Hehehe. Menjelang jam 6 gua ke empo lagi, kirain anak” dah slese maen. Ternyata semua masih pada kesetanan. Maka gua pun duduk barang 5-10 menit dan meninggalkan mereka semua. Melintasi gelap malam, dan kericuhan jalanan.

Tam

UAS segera dimulai sodara-sodara!!!!!

Dan gua masih perlu mempelajari bahan yang amat sangat naudjubillah bujug banyaknya. Ya, ini semua karena tingkah laku gua selama di kelas yang mungkin sama sekali tidak mencerminkan orang yang niat untuk belajar. Kalau kamu adalah orangtua atau guru yang menghadapi seekor, eh…seorang ‘Anak Kurang Ajar Suka Melawan yang Ingin Diarahkan ke Jalan Kebenaran’  lalu minta contoh orang yang dilarang untuk ditiru, diharamkan untuk diteladani, dan tidak pantas untuk digauli (upssss) serta wajib dinistakan….tunjuklah diri saya ketika berada di kelas.

Masalah sikap belajar ini gua utarakan kepada teman, saudara, dan teman homoan: Kharis Juliman (sebut saja Kaje). Bermula kemarin ketika gua sedang mengikuti kelas Perancangan Elemen Mesin dan memanfaatkan waktu dengan berhuru-hara kanan-kiri-depan-belakang tiba” tersentak . Ya, tersentak. Oleh statement kamerad Muhammad Gilang Pandeka-yang duduk sebelah kiri gua. Kira” bunyinya seperti ini: “Ah Vid, lu kan ke kampus emang buat ngobrol bukan kuliah.” Deg! Wow..hha. Maka gua merenung. Merenung. dan merenung. Lalu menengok kiri. menengok kanan. menengok depan. menengok belakang. Ian baca komik. Audri duduk terpaku tanpa alat tulis dan tak menaruh perhatian ke dosen. Kaje duduk nyaman laksana raja di atas singgasana. Seantero kelas gegap gempita. Mereka meneriakkan “Merdeka! Merdeka!” Lalu ‘Indonesia Raya’ berkumandang. Ga lah. Mereka mencatat dan memperhatikan dengan serius. Tapi bisa juga ditapsirkan seperti itu, kan kata guru-guru sejarah kita berjuang di masa kini dengan pena-alat tulis. Berarti bisa dikatakan gua orang yang paling tidak siap untuk berjuang. Lah nulis aja pake drawing pen. DRAWING pen. Pena (untuk) MENGGAMBAR. Dalam buku sejarah berpuluh tahun yang datang gua akan sangat pantas menjadi karakter-karakter ‘jablay’.

Tahun 2060-an (kalau bumi masih ada dan manusia bisa bertahan hidup)

Pembahasan di dalam kelas. Situasi: guru menunjuk ke arah tembok yang menampilkan gambar. Muncul foto Tiwi yang mencatat. Tampil foto Johansyah yang berdiskusi. Nampak foto Gilang yang berorasi. Terlihat rupa Billy yang berpresentasi. Guru menjelaskan tentang masing-masing tokoh. Para siswa terkesima. Lalu tampilan beralih. “Ya, inilah David. Ketika para pahlawan kita yang lain berjuang dengan cerdas dan mati-matian dengan caranya, ia bahkan tidak cukup punya otak untuk menggunakan senjata yang benar. Ia jarang menulis. Dan begitu menulis, ia menggunakan DRAWING pen! DRAWING PEN anak-anak!” Siswa-siswi terbahak-bahak. Mengakak-ngakak. Melonjak-lonjak. “Hahaha pake drawing pen buat nulis! hahaha! Bego!” Sebagai guru sejarah yang baik, sang guru mencoba menenangkan dan berucap diplomatis “Tapi dia telah berusaha dan berjuang untuk kita, dan itu harus dihargai. Tugas kita belajar dari kesalahannya. Jangan menertawakan dia”  Namun kemudian ia tidak tahan dan ikut tertawa “Hahaha, idiot. Nulis pake drawing pen. Hahahahaha.”

Maka terlintaslah pikiran di kepala. Lalu terucapkanlah pikiran itu..yang gua utarakan, baratkan, timurkan, dan selatankan. ke Kaje-yang duduk sebelah kanan gua. “Iya ya Je, mau jadi apa gua. Elu….. calon anak UI, Ian…….anak band, Audri….” “Audri kenapa vid?” “Tampan dan mempesona..” “Calon model ya vid?” Gua mengangguk. Lalu termangu. sendu. pilu. syahdu. “Bertobatlah, Nak..” kata gua pada diri sendiri. Kaje menertawakan rekannya yang terperosok ke jurang yang dalam. Sangat dalam. Lalu haru.biru.kelabu.

Tam

Vote for Indonesia!

Juni 6, 2008

Tiga situs wisata Indonesia masuk dalam nominasi New7Wonders! 7 keajaiban dunia yang baru. Dan untuk keajaiban dunia yang baru ini, semua yang dinominasikan adalah situs” yang terjadi secara alami, bukan ciptaan manusia. Yah, mungkin secara filosofis untuk merenungkan kembali keagungan, keakbaran, kebesaran Tuhan.

Yang perlu jadi perhatian adalah bahwa sistem pemilihan keajaiban dunia ini melalui polling via internet. Jadi, ayo kita bergerilya untuk memvote situs-situs tersebut! Oh ya, tiga keajaiban itu adalah :

1. Danau Toba

2. Gunung Krakatau

3. Taman Nasional Komodo

Menakjubkan dan indah, bukan? Makanya segera kunjungi new7wonders.com dan vote tempat” tersebut!

Gak repot kok..tinggal pilih dan isi beberapa data, lalu klik pada link yang dikirimkan ke e-mail kita. Selesai dalam 1-2 menit. Ok?

Salam cihui.

Tadi pagi gua ikut seminar yang digelar Binus Enterpreneurship Center. Pembicaranya Hikmat Kurnia – pimpinan AgroMedia, Pak Yayan – pimpinan MediaKita, Windy Ariestanty – pimpinan GagasMedia, dan Taufik Hidayat (bukan..bukan pemain bulutangkis!) penulis “Cara Mudah Meraup Dolar Lewat Internet”.

Ternyata Taufik Hidayat yang penulis ini tanggal lahirnya sama dengan Taufik Hidayat menantu Mang Agum GUmelar! Cuma beda tahun lahirnya, yang mana fakta ini membuat Pak Taufik sang penulis yang juga dosen di sebuah perguruan tinggi di Jawa Tengah berani mengeluarkan statement bahwa si Taufik yang lebih muda adalah fans-nya.

Gua jadi inget Pak Taufik dosen bahasa inggris gua semester 1…iya, yang suka bilang ‘Bahasa Inggris itu menarik…bagi yang tertarik’. Ya, ya, ya. Saya pun bisa bilang bahwa ‘Upil itu menarik..bagi yang tertarik.’ Kali” aja dengan itu kaum pencinta upil yang semulanya menyimpan ketertarikannya dengan bergerilya menjadi lebih terbuka dan terang”an. Suatu hari nanti mereka akan melakukan demonstrasi menuntut persamaan hak. “Sahkan pernikahan manusia dengan upil!” “Upil juga punya perasaan!”

Acara reality show di televisi juga akan semakin beragam. Program ‘Lemon Tea-Asam manis cinta’ akan menjadi ‘Upil-Gejolak rasa yang tiada duanya’. Tukul Arwana alih” membaawakan acara Empat Mata akan memandu acara Empat Upil dan gayanya yang khas berubah menjadi :

1. menarik” hidung (biar mancung)

2. menmasukkan jari telunjuk-tengah tangan kanan ke lubang hidung

3. Mengarahkan jari” yang tadi dipakai mengupil ke arah penonton

4. Menyentilkan ‘upil yang menarik bagi yang tertarik’ ke arah penonton. (Penonton tertawa” kegirangan ketika upil bersarang di wajahnya).

Ya, ya, ya. Hal tersebut sangat mungkin terjadi. Ketika penonton sudah mulai bosan tertawa” diejek oleh Tukul, maka disentilkan upil Tukul menjadi ide yang fresh dan breakthru.

Oke, kita lari terlalu jauh (walaupun dari tadi gua duduk depan komp doang sih..).

Seminar tadi cukup seru, semua pembicara berbagi pengalaman dan saran”nya yang menurut gua sangat bermanfaat. Salah satu pandangan yang gua tangkap bahwa buku adalah produk industri. Jadi kalau ingin buku Anda memiliki nilai jual, dalam proses kreatif perlakukan buku sebagai barang yang ingin diperdagangkan. Semoga saja gua bisa mengolaborasikan pandangan ini dengan tetap mempertahankan idealisme gua memperlakukan buku sebagai produk budaya.

Mbak Windy Ariestanty juga terlihat sangat cantik, smart, fresh, dan ramah. Mbak, I Love You..hahaha.

Selesai seminar gua mendaftar pelatihan speed reading dan creatie writing. Insya Allah bisa bermanfaat deh. Amin.

Tadi survey tempat buat charity di kamal muara. Nyarinya sempet nyasar”, soalnya patokannya dekat stadion kamal..tapi ternyata masih lumayan juga. Tepatnya dekat pelelangan ikan. Jadinya baru sampai sana sekitar 9.30. Tempat yang kami survey adalah TK (tepatnya Kelompok Bermain) Sumbangsih.

Begitu sampai kami memperkenalkan diri, lalu ngobrol” dengan Pak Syamsudin, yang bersama istrinya– Ibu Indah–mendirikan Kelompok Bermain (KB) tersebut. Kita berbincang soal kondisi sekolah, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Asyik juga, tanya” dan cerita” sekitar satu jam sambil memperhatikan kegiatan belajar mengajar dari luar. Meskipun rada mengantuk (menurut penilaian gua), tapi beliau tetap cukup bersemangat meladeni kami.

Pak Syam–yang merupakan RT di daerah tersebut dan sehari” bekerja sebagai nelayan–karena keadaan yang sulit ternyata aktif pula dalam pergerakan memperjuangkan kepentingan kaum nelayan. Antara lain menentang reklamasi pantai, yang sampai sekarang belum diterima dan bahkan sudah sempat dilakukan pemerintah. Ia menuturkan bahwa ia bersama rekan” telah melakukan demonstrasi ke DPRD hingga DPR, namun tetap tidak digubris. Sekarang ini mereka juga masih mengajukan audensi ke Dewan Kelautan dan Perikanan serta Pertamina mengenai masalah solar, namun toh belum ditanggapi juga. “Kalau gak ditanggepin terus, ya terpaksa kita bergerak,” katanya.

Mengenai reklamasi pantai, mereka (dan kita) sangat pantas untuk menolak program pemerintah itu. Bayangkan saja, mungkin laut menghidupi 99% keluarga di kawasan sekitarnya (baik sebagai nelayan atau pedagang). Laut juga merupakan kekayaan Indonesia sebagai negara maritim. Dan, sebagai awam, gua berhipotesis bahwa reklamasi pantai akan semakin mempercepat banjir, baik di kawasan tersebut, Jakarta, bahkan Jawa. Sekarang saja dalam satu bulan kawasan KB Sumbangsih hampir rutin mengalami dua kali pasang, dan sekali pasang berlangsung sekitar seminggu. Bayangkan yang terjadi selanjutnya. Bingung deh kalau kita memikirkan kebijakan” pemerintah pusat maupun daerah. Dalam kasus” di atas misalnya, semua kebijakan seolah semakin menyudutkan profesi nelayan.

Bersambung…

Charity oh Charity

April 5, 2008

Pusing mikirin charity…

tuntutan presiden–> diferensiasi dan branding

tuntutan kakak perguruan–>lebih ke person, tanya hati lu

idealisme–>earth and society

Fakta:

-minim pengalaman

-SDM terbatas

Gimana konsep acara yang mau dijalani?
Tuhan mohon tunjukkan jalan yang harus dipilih…

Pasrah buat kuis elektro

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.