Hubungan Mayoritas-Minoritas di Indonesia

Januari 28, 2008

Tadi saya window shopping ke youtube (bener gak sih window shopping?), mencari video tentang Pak Harto. Setelah browse ke sana-sini dan terkesima menonton video pidato-pidato Bung Karno, saya tertarik untuk mengklik sebuah video tentang berita kerusuhan 1998 versi Cina (ga tau juga sih, tapi bahasa pengantarnya mandarin).

Namun ketika menunggu proses buffering, saya justru lebih tertarik pada comment-comment yang terlampir. Rupanya sudah terjadi semacam pertengkaran akibat video ini. Intinya tentang cina-pribumi (saya sebenarnya sama sekali tidak menyukai penggunaan istilah ini). Banyak post-post yang bernada kebencian dan serangan satu sama lain. Penyerang-penyerang ‘pribumi’ mengungkap kejelekan-kejelekan koruptor ‘cina’ (antara lain Edi Tansil), majikan ‘cina’ yang sewenang-wenang (a.l. Pimpinan Adidas Indonesia),bahkan sampai serangan terhadap NEGARA Cina sebagai bangsa komunis dan makian-makian kasar. Pernyataan-pernyataan yang BODOH dan salah sasaran,pikir saya. Penyerang-penyerang ‘cina’ menggunakan dalih-dalih yang SAMA BODOHnya. Entah ‘cina’ yang turut berjasa memajukan ekonomi Indonesia lah,’cina’ yang berprestasi untuk bangsa ini lah, dan makian-makian yang sama kasar. Memang banyak pula yang mengambil sikap netral dan mencoba mendamaikan, namun kalah dari para agresor.

Saya, sebagai yang mungkin mereka kelompokkan sebagai ‘cina’ muak dengan arogansi dan pemikiran mereka,baik yang ‘pribumi’ maupun yang ‘cina’. Rupanya isu ini memang masih sangat jauh dari lenyap.

Harusnya saya tidak naif. Saya teringat sebuah peristiwa.Beberapa minggu lalu, saya diceritakan hal yang juga tak kalah miris dari koordinator tim publikasi sebuah kompetisi yang digelar organisasi kampus (tim yang saya juga termasuk di dalamnya) . Dua anggota tim kami mendatangi sebuah SMA untuk menyampaikan undangan.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sopan dan halus tutur katanya. Namun bagaimanakah hangatnya tanggapan dari guru yang ditemui? “Dari ……..? males ah, kan banyak cinanya.”

Universitas kami memang cukup diketahui publik sebagai ‘kampus cina’, selain kampus komputer.

Namun, begitukah kira-kira isi pikiran dari inidividu yang mengaku guru? Individu yang bertanggung jawab mendidik ratusan muda-mudi Indonesia tiap tahunnya?

Saya kecewa cukup dalam. Miris juga apa yang dialami bangsa kita. Apa guru itu perlu belajar lagi, apa sejatinya yang dimaksud BANGSA INDONESIA oleh proklamator kita?

Saya pribadi (mungkin karena terbiasa dengan budaya Indonesia) cukup legowo. Oke, mungkin masih jauh impian saya untuk menjadikan Cina di Indonesia dipandang sebagai suku, sama dengan Jawa,Batak,Sunda,Bugis,Aceh,Papua, dan sebagainya. Namun, kata-kata seorang yang menyebut profesinya guru membuat hati saya miris.

“Hanya kaum mayoritas berpikiran besar yang mendiskriminasikan kaum minoritas, namun kaum minoritas yang mendiskriminasikan kaum mayoritas adalah bodoh sebodoh-bodohnya”, begitulah yang saya yakini. Namun kenyataannya?Aih,ironis. Masih banyak ‘cina’ imbisil di luar sana, masih banyak ‘pribumi’ berpikiran kecil di jengkal-jengkal tanah air Indonesia.

Sekian. Maaf kalau kurang berkenan.

Update :

Ternyata hari berkabung nasional yang berlangsung sekarang ini ada peraturan pemerintahnya,keluar tahun 1990 (Sudahkah anda memasang bendera setengah tiang hari ini?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: