Sikap Belajar-Masa Depan ‘Jablay’

Juni 15, 2008

UAS segera dimulai sodara-sodara!!!!!

Dan gua masih perlu mempelajari bahan yang amat sangat naudjubillah bujug banyaknya. Ya, ini semua karena tingkah laku gua selama di kelas yang mungkin sama sekali tidak mencerminkan orang yang niat untuk belajar. Kalau kamu adalah orangtua atau guru yang menghadapi seekor, eh…seorang ‘Anak Kurang Ajar Suka Melawan yang Ingin Diarahkan ke Jalan Kebenaran’  lalu minta contoh orang yang dilarang untuk ditiru, diharamkan untuk diteladani, dan tidak pantas untuk digauli (upssss) serta wajib dinistakan….tunjuklah diri saya ketika berada di kelas.

Masalah sikap belajar ini gua utarakan kepada teman, saudara, dan teman homoan: Kharis Juliman (sebut saja Kaje). Bermula kemarin ketika gua sedang mengikuti kelas Perancangan Elemen Mesin dan memanfaatkan waktu dengan berhuru-hara kanan-kiri-depan-belakang tiba” tersentak . Ya, tersentak. Oleh statement kamerad Muhammad Gilang Pandeka-yang duduk sebelah kiri gua. Kira” bunyinya seperti ini: “Ah Vid, lu kan ke kampus emang buat ngobrol bukan kuliah.” Deg! Wow..hha. Maka gua merenung. Merenung. dan merenung. Lalu menengok kiri. menengok kanan. menengok depan. menengok belakang. Ian baca komik. Audri duduk terpaku tanpa alat tulis dan tak menaruh perhatian ke dosen. Kaje duduk nyaman laksana raja di atas singgasana. Seantero kelas gegap gempita. Mereka meneriakkan “Merdeka! Merdeka!” Lalu ‘Indonesia Raya’ berkumandang. Ga lah. Mereka mencatat dan memperhatikan dengan serius. Tapi bisa juga ditapsirkan seperti itu, kan kata guru-guru sejarah kita berjuang di masa kini dengan pena-alat tulis. Berarti bisa dikatakan gua orang yang paling tidak siap untuk berjuang. Lah nulis aja pake drawing pen. DRAWING pen. Pena (untuk) MENGGAMBAR. Dalam buku sejarah berpuluh tahun yang datang gua akan sangat pantas menjadi karakter-karakter ‘jablay’.

Tahun 2060-an (kalau bumi masih ada dan manusia bisa bertahan hidup)

Pembahasan di dalam kelas. Situasi: guru menunjuk ke arah tembok yang menampilkan gambar. Muncul foto Tiwi yang mencatat. Tampil foto Johansyah yang berdiskusi. Nampak foto Gilang yang berorasi. Terlihat rupa Billy yang berpresentasi. Guru menjelaskan tentang masing-masing tokoh. Para siswa terkesima. Lalu tampilan beralih. “Ya, inilah David. Ketika para pahlawan kita yang lain berjuang dengan cerdas dan mati-matian dengan caranya, ia bahkan tidak cukup punya otak untuk menggunakan senjata yang benar. Ia jarang menulis. Dan begitu menulis, ia menggunakan DRAWING pen! DRAWING PEN anak-anak!” Siswa-siswi terbahak-bahak. Mengakak-ngakak. Melonjak-lonjak. “Hahaha pake drawing pen buat nulis! hahaha! Bego!” Sebagai guru sejarah yang baik, sang guru mencoba menenangkan dan berucap diplomatis “Tapi dia telah berusaha dan berjuang untuk kita, dan itu harus dihargai. Tugas kita belajar dari kesalahannya. Jangan menertawakan dia”  Namun kemudian ia tidak tahan dan ikut tertawa “Hahaha, idiot. Nulis pake drawing pen. Hahahahaha.”

Maka terlintaslah pikiran di kepala. Lalu terucapkanlah pikiran itu..yang gua utarakan, baratkan, timurkan, dan selatankan. ke Kaje-yang duduk sebelah kanan gua. “Iya ya Je, mau jadi apa gua. Elu….. calon anak UI, Ian…….anak band, Audri….” “Audri kenapa vid?” “Tampan dan mempesona..” “Calon model ya vid?” Gua mengangguk. Lalu termangu. sendu. pilu. syahdu. “Bertobatlah, Nak..” kata gua pada diri sendiri. Kaje menertawakan rekannya yang terperosok ke jurang yang dalam. Sangat dalam. Lalu haru.biru.kelabu.

Tam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: